Thursday, 28 April 2011 06:03    PDF Print E-mail
Pembajakan kapal & martabat bangsa
Opini
BUDI D SINULINGGA

Tanggal 16 maret 2011 Kapal Motor Sinar Kudus dibajak perompak Somalia. Mereka minta tebusan 2,6 juta dollar. Memang Somalia ini benar-benar negara gagal karena perompak berkeliaran, tanpa ada upaya pmerintah membasminya. Karena tetap belum ada penyelesaian maka perompak  menaikkan tawaran jadi 3,5 juta dollar.

Pihak perusahaan pelayaran  berupaya negosiasi, tapi belum ada hasilnya. Pemerintah juga belum jelas apa tindakannnya, hanya pernyataan yang sifatnya dipolmatis. Staf khusus Presiden Teuku Faiza Syah menegaskan, pemerintah tidak melakukan negosiasi dengan perompak. Kalaupun ada negosiasi, maka itu tidak dilakukan atas nama pemerintah, walaupun ada fasilitasi, kata Faiza.  

Menko  Bidang Polkam, Djoko Suyanto menegaskan, keselamatan warga negara Indonesia yang disandera perompak di Somalia tetap menjadi prioritas utama, dengan terus melakukan perundingan dan memilih alternatif terbaik. Menlu Marty mengatakan, pemerintah terus menjaga komunikasi dengan pemilik kapal dan akan terus berupaya memastikan pembebasan warga yang disandera itu. Pernyataan presiden sudah sangat tegas bahwa pemerintah melakukan berbagai opsi yang akan dan telah dilaksanakan.  Tolong agar diberikan ruang kepada pemerintah untuk bekerja agar segera memastikan pembebasan tersebut, kata Marty. (Semua pernyataan itu tidak konkret). Sementara itu Danjen Kopassus menyatakan mereka siap membebaskan para sandera kalau diperintahkan

Pemerintah terasa sangat lamban dalam mengambil keputusan karena pembajakan  telah berlangsung lebih dari sebulan. Apalagi  kalau dibandingkan dengan operasi pembebasan sandera pesawat DC 9 Woyla tahun 1981 di Bangkok

Kisah pembebasan sandera Woyla

Dari buku Benny Moerdany, profil perajurit negarawan, Memory jendral Yoga dan, Sintong Panjaitan, perjalanan seorang perajurit Para Komando, dapat dilihat bahwa reaksi pemerintah (baca ABRI) sangat cepat wakt itu. Sabtu pagi,  28 Maret 1981 pesawat GA206 tujuan Medan tinggal landas dari Talang Betutu, pilotnya  Kapten Pilot Herman Rante. Sesaat setelah tinggal landas pesawat dibajak. Pembajak minta agar terbang ke Srilangka, tapi karena bahan bakar tak cukup, dialihkan ke Penang. Dari Penang terbang lagi ke Bangkok Thailand.  

Berita pembajakan pertama sekali didengar oleh Kapten Pilot Sapari pesawat F28, yang lepas landas dari Pakanbaru via radio udara yang disampaikan kapten pilot Herman Rante. Berita ini diteruskan kepada pengawas lalu lintas udara di Kemayoran  yang selanjutnya  meneruskannya ke pihak keamanan. Begitu Sudomo (Wapangab waktu itu) mendapat berita, segera meneruskan kepada Menhankam Pangab, Jendral M.Yusuf, yang berada di Ambon beserta pimpinan ABRI lainnya, sedang mengikuti Rapim dan berita  diterima waktu makan siang.

Pangab  minta Letnan Jendral Benny Murdani menangani nya. Beberapa menit kemudian telefon berdering di markas RPKAD Cijantung yang diterima Letkol Sintong Panjaitan, yang sedang memakai tongkat karena kakinya baru patah akibat cerdera latihan terjun bebas. Sintong diperintahkan  menyiapkan pasukan. Memang Sintong telah lama  memperdalam pengetahuan tentang teroris, sehingga ialah tokoh yang paling tepat. Pasukan segera disiapkan sebanyak 30 orang. Hari Sabtu siang 28 Maret itu juga, Sintong meminta Garuda menyediakan pesawat DC9 yang sejenis untuk berlatih dan mengenal lebih dalam tentang pesawat dan bagaimana cara mendobrak pintunya dari luar. Pada 28 Maret jam 19. 25 Kepala Bakin Jendral Yoga Sugomo berangkat ke Thailand mengadakan negosiasi dengan para pembajak dan untuk mengulur waktu.       

Pada hari yang sama jam 21. 00 Letnan Jendral Benny Murdany mendarat di Halim Perdana Kusuma dari Ambon dan mengadakan rapat di kantor Ass. Intel Hankam untuk membicarakan langkah operasi. Selesai rapat, Benny Murdany menyinggahi Sudomo untuk bersama menghadap presiden Suharto. Karena Pak Harto sudah istirahat maka ia menemui mereka hanya pakai kain sarung. Jendral Benny melaporkan bahwa ABRI sudah merancang operasi militer karena ABRI tidak ingin menyerah. Pak Harto bertanya berapa persen kemungkinan berhasil. Benny menjawab: Fifty-fifty. Pak Harto setuju dilaksanakan.

Minggu 29 Maret, siang hari pasukan anti teror berkumpul di kantor jendral Benny Murdani di Tebet untuk mendapat briefing, serta mencoba pakaian tahan peluru. Jam 21.00 pasukan khusus anti teror telah siap berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusuma ke Bangkok. Sebelum berangkat Benny Murdani membagikan senjata MP5SD-2 dengan peluru khusus yang dipakai bertempur di pesawat, mematikan tapi tidak sampai menembus pesawat. Letkol Sintong Panjaitan keberatan akan senjata itu, karena belum pernah dipakai dan harus dicoba dulu. Karena sempitnya waktu, Benny marah dan mengatakan pada Sintong: ”Kau takut?

Selanjutnya Benny berkata, ”Masuk  ke pesawat”. Semua pasukan masuk dan mesin pesawat dihidupkan. Sintong datang lagi pada Benny dan mengatakan, ”Saya ingin berhasi pak, tapi kalau bapak memerintahkan berangkat tentu saya laksanakan”. Benny memerintahkan semua pasukan turun dan mencoba peluru itu dan ternyata macat semua, rupanya sudah kadaluwarsa. Peluru diganti dengan yang baru dan dicoba lagi ternyata berhasil. Pasukan masuk kembali ke dalam pesawat DC10, dan berangkat jam 21.50 WIB dan sampai di Bangkok Senin tanggal 30 Maret jam 00.30 waktu setempat.   

Hari Senin jam 06.00 Benny tiba di kantor perdana mentri bersama Kepala Bakin untuk meminta izin operasi. Perdana menteri mengatakan bahwa putusan akan disampaikan  jam 11.00 hari itu, dan izin memang diberikan. Setelah izin diterima maka Benny memesan 17 buah peti mati, karena diperkirakan korban akan demikian jumlahnya.

Ketegangan dan kelelahan terjadi pada pasukan anti teror karena mereka telah siaga  sejak Sabtu siang sampai Senin siang dan kurang tidur. Sintong punya akal menghilangkan ketegangan ini dan mengatakan operasi tak jadi dilakukan karena pasukan Thailand akan melakukan. Kontan pasukannya tertidur pulas, mendengkur adu keras. Sore hari Sintong berkata lagi : Okey kalian sudah cukup istirahat, kita kembali bersiap”.  Jam 19.00 kembali  Pasukan anti teror berlatih di hangar Angkatan Udara Thailand dengan pesawat DC9 yang sejenis, dan memang ada juga diperlukan penyempurnaan langkah langkah operasi.  

Sintong mengatakan pada anggotanya: ”Setelah dobrak pintu samping tembak siapapun yang berada dekat pintu (perkiraannnya pembajak yang akan ada di situ dan kalau penumpang, memang sudah risiko) dan buatkan tembakan mendatar di atas kursi tempat duduk (perkiraannya penumpang akan tunduk berlindung)”. Ternyata kemudian antisipasi Sintong benar.

Jam 02.00 pagi tanggal 31 Maret pasukan bersiap naik mobil menuju pesawat DC9 yang dibajak. Jam 02.45 serbuan dimulai dan pesawat DC9 Woyla dapat dikuasai pasukan anti teror dalam waktu hanya 3 menit (lebih cepat 0,5 menit dibanding waktu latihan). Korbannya, pilot Herman Rante ditembak pembajak, dan Peltu Ahmad Kirang dari RPKAD gugur, tapi semua pembajak 5 orang tewas. Peti mati hanya dipakai 7, sisa 10.

Pujian datang dari kedutaan besar Amerika, Badan keamanan nasional Korea, Duta Besar Korea, Perwira Habib Bank Malaysia, Duta besar India dll. Asian Wall Street dalam tajuknya menulis:  “From hijack to the last gunshot, the entire operation lasted about 60 hours. It also required courage, efficiency and displine”. Dunia berdecak kagum, karena dari mulainya pembajakan sampai tembakan terakhir membebaskan sandera hanya 60 jam, kurang dari 3 hari penuh.

Keberhasilan operasi ini karena pertama, ABRI tidak ragu bertindak, sebelum ada izin presiden telah melakukan persiapan. Kedua, adanya  perwira tinggi Benny Murdany  dengan kapasitasnya  mampu meyakinkan pak Harto. Benny berpengalaman dalam penumpasan PRRI, memimpin operasi Naga di Irian Jaya (di bawah pimpinan pak Harto), dipanggil pulang dari Korea karena peristiwa Malari (perwira intelijen yang dipercayai pak Harto waktu itu) dan pernah menyusup ke Timor Timur (waktu perang saudara) dan langsung bertempur di lapangan layaknya seorang prajurit, wlaupun ia berpangkat mayor jendral.  Dan ketiga,  adanya Letkol  Sintong Panjaitan yang selalu tangguh dalam operasi, mempunyai pengetahuan  tentang teroris, dan berani melawan atasan jendral bintang tiga, kalau ia yakin bahwa atasan itu salah dan bisa fatal kalau diikuti perintahnya. Dan keempat,  Pak Harto  memberi izin walaupun kemungkinan berhasil hanya fifty-fifty.

Bagaimana dengan Sinar Kudus ?
Pembajakan Sinar Kudus sudah berjalan lebih dari sebulan, adakah operasi militer?  Kalau ada tentunya sudah terlaksana. Menurut penjelasan seorang mantan perwira Kopassus (sekarang  Mayjen), bahwa secara teknis Kopassus mampu melaksanakan operasi pembebasan sandera dengan juga tetap memperhatikan keselamatan para sandera. Antara lain, bisa terjun dari udara malam hari dari ketinggian 10.000 feet (hello jumping), mendarat  di laut, lalu berenang menuju kapal, pakai peralatan night vision sehingga mudah membedakan orang Indonesia dan Somali. Dan banyak juga cara lain yang dapat dilakukan. Penjelasan ini logis, karena pesawat DC9 saja bisa diterobos apalagi kalau kapal motor  yang terbuka.

Jadi di mana letak persoalannya sehingga tidak ada operasi militer, sementara itu Malaysia dan Korea telah pernah berhasil. Sepertinya kalau dalam pelaksanaan operasi,  ABRI siap kalau diperintahkan. Tidakkah ada perwira tinggi ABRI seperti Benny Murdani yang mau pasang badan, meyakinkan presiden bahwa operasi yang penuh perhitungan mampu dilaksanakan, atau hanya mengirim nota dinas sehingga kurang meyakinkan ? Atau memang presiden tidak mau ambil risko sedikitpun? Atau masih mempertimbangkan berbagai segi sementara waktu berjalan terus?  Banyak sekali pertanyaaan seputar ini.

Hal yang perlu diingat oleh pemerintah bahwa andainya negosiasi dengan pembayaran tebusan oleh perusahaan pelayaran berhasil, jangan dikira pemerintah akan bebas dari hujatan, ketidakpuasan masyarakat karena rasa bangga akan bangsa Indonesia  telah pupus sekarang ini. Bukan hanya karena peristiwa Sinar Kudus, tapi juga kejadian yang lain.

Penulis adalah Dewan Kota Medan, Mantan KaBappeda Sumatera Utara